Mastro Meat Market: Finally, A Proper Steakhouse!


Gue sukaaaaa banget sama steak! Dari dulu, obsesi gue adalah makan steak 'yang bener'. Bukan steak 'goreng tepung', atau steak yang tipis sampe ketika dipotong pun gak berasa. Gue juga pengen banget makan steak yang ketika dipotong, merah daging di tengahnya itu masih bisa gue liat. Tapi apa daya, kalau gue mau makan steak yang bener maka yang ada di pikiran gue adalah harga yang mahal, kudu make baju bagus, dan lain-lainnya, dan sebagainya.

Well, karena alesan itu gue lebih suka beli daging sendiri. Minta tukang dagingnya motong dengan selera yang gue mau -- seberapa tebel, seberapa lebar, dan seberapa gede -- terus gue ngeracik bumbu sendiri sambil liat video di YouTube tentang cara nge-grill steak yang bener. Referensinya? Macem-macem. Mulai dari chef selebriti ternama macem Gordon Ramsey dan Jamie Oliver, sampe chef di suatu restoran yang gue gak tau itu ada di mana. Pokoknya gue tonton sampe begah! :D

Pada suatu ketika, temen gue bilang, "Lo mau makan steak yang bener? Coba ke Mastro! Itu lebih oke daripada steakhouse yang bertebaran di Jakarta. Well, emang agak mahal sih, tapi itu jaminan steaknya proper dan tebel. Bukan abal-abal." Penasaran, gue pun akhirnya nanya sama Google dan dapet alamat ini:



Akhirnya gue janjian sama temen gue itu hari Sabtu kemarin. Janji ketemuan jam 11 siang, tapi karena dia kena macet akhirnya sampai jam setengah 12-an. Kesan pertama yang gue dapet adalah: tempatnya cozy, lega, terkesan premium, dengan deretan lemari pendingin beretalase yang memamerkan berbagai macam jenis daging. Mulai dari yang harganya 100 ribuan, sampai 3 juta rupiah per kilonya -- yoi, 3 juta, buat daging wagyu dengan marble yang sangat banyak :)) 

Setelah pilih pilih, gue akhirnya memutuskan buat menyantap New Zealand Black Angus striploin 400 gram, tingkat kematangan medium rare *hei, steak itu harus dinikmati dengan tingkat medium rare biar sari dagingnya masih ada* dengan saus jamur dan side dish berupa mashed potato dan salad. Nah, berhubung gue jalan sama temen yang punya blog boga si Jenz dan Sop, jelas steak yang gue makan langsung difoto sama doi dan beginilah hasilnya:


Gede ya? Yaiyalah, 400 gram. :)) Tapi ya emang dasar karnivor kali ya... gue makan daging sebanyak itu gak begah atau gimana. Hap hap hap aja gitu... gigitan demi gigitan. And when I cut the meat and took the first bite, I finally found a good steakhouse which serves a proper steak! Yeay! Kokinya bisa banget nge-grill dagingnya dengan sedemikian rupa. When I asked for medium rare, they gave me medium rare! :D 

Sekarang soal ongkos. Buat 400 gram daging Black Angus NZ, gue menghabiskan Rp275.000,- dengan side dish seharga Rp45.000,-, total Rp320.000,-. Mahal? Memang. Makanya gue memutuskan buat berkunjung ke sini sekitar dua bulan sekali. Ya iyalah, kalo sering mah bangkrut pastinya bok... :)) Tapi, apakah itu termasuk Money well spent? Well, fucking yes!

Comments